Mengembalikan Budaya Menghafal yang Telah Punah

Mengembalikan Budaya Menghafal yang Telah Punah – Berawal dari pelajaran yang saya dapat di kelas. Saat itu guru saya bercerita tentang pencapaian spektakuler Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Berkat beliaulah ilmu-ilmu Islam tetap terlestarikan. Selain umara, Umar bin Abdul Aziz juga ulama. Akhirnya banyak kebijakan yang mengarah pada khazanah keilmuan Islam.

Di antara kebijakannya adalah pengiriman ulama ke tempat-tempat yang jarang disentuh dakwah. Hal ini dilakukan agar misi li takuna kalimatullahi hiyal ‘ulya lebih merata. Kebijakan serupa juga pernah di lakukan oleh Khalifah Usman bin Affan. Kini, kebijakan itu diadopsi Sidogiri. Sidogiri aktif mengirim guru bantu ke lembaga pendidikan agama yang kekurangan tenaga pengajar.

Selain itu, kebijakan hebat lainnya adalah memerintah para ulama kala itu untuk memulai pengkodifikasian Hadis dan ilmu Fikih. Ini adalah respon dari situasi buruk kala itu. Ekonomi umat Islam yang mapan membuat pelajar mulai malas menghafal ilmu. Khalifah khawatir ilmu agama akan hilang jika para pelajar sudah tidak lagi gemar menghafal. Padahal, menghafal adalah ‘makanan pokok’ ulama silam. Bahkan jauh sebelumnya, menulis ilmu pernah dilarang. Alasannya agar para pelajar tidak selalu  mengandalkan catatan, lantas hafalan mulai ditinggalkan. Hal ini menuntut Umar bin Abdul Aziz ‘merekonstruksi’ aturan tidak tertulis ini.

Baca Juga : Pesona Wanita Cantik yang Sesungguhnya

Sampai di sini cerita guru saya tentang Khalifah Umar bin Abdul Azizi berakhir. Beliau selanjutnya menuturkan fakta sejarah tentang semangat menghafal ulama tempo dulu.

Cerita orang hebat itu dimulai dari Imam asy-Sya’bi, Abu ‘Amr ‘Amir bin Syarahil asy-Sya’bi namanya. Beliau pernah mengaku demikian, “Hingga saat ini aku tidak pernah menulis hitam di atas putih. Aku juga tidak senang jika guruku mengulang-ulang pelajaran,”. Hebat sekali beliau. Mungkin menghafal bagi beliau adalah kebiasaan, sehingga sekali mendengar beliau langsung menghafal. Memang demikian, jika sesuatu sudah dibiasakan maka akan terlihat gampang.

👉 TRENDING :   Kumpulan Twibbon Harlah Pergunu 2022

Selesai asy-Sya’bi, guru saya berkisah tentang az-Zuhri. Nama lengkapnya Muahammad bin Muslim bin Ubaidillah bin Syihab az-Zuhri. Suatu ketika Imam Malik, muridnya, bertanya kepada beliau, “Apakah Anda mencatat pelajaran?”. Beliau menjawab, “Tidak”. Imam Malik kembali bertanya, “Apakah Anda pernah meminta guru Anda untuk mengulangi hadis?”. Lagi-lagi beliau menjawab, “Tidak”. Imam az-Zuhri juga hebat. Sekali mendengar bisa langsung hafal. Mungkin bagi beliau menghafal adalah hobi. Memang demikian, jika suatu hal sudah menjadi hobi maka akan terasa gampang.

Sampai di sini cerita cerita guru saya tentang orang-orang hebat selesai. Saya teringat kisah Imam Syafi’i yang sering diceritakan teman-teman dan guru-guru. Beliau terlebih dahulu menghafal kitab al-Muwatthok karya Imam Malik sebelum Imam Syafi’i nyantri kepada beliau. Kitab al-Muwatthok yang sangat tebal itu beliau hafal hanya dalam waktu singkat.

Guru saya melanjutkan kisahnya tentang Umar bin Abdul Aziz. Khalifah Umar bin Abdul Aziz sadar akan perubahan gaya hidup masyarakat kala itu. Saat itu masyarakat terkesan hidup berfoya-foya. Sehingga menghafal pun sedikit demi sedikit luntur. Oleh karena itu, Khalifah Umar memerintah para ilmuan untuk mulai mengkodifikasi ilmu agama.

Tentu tujuan khalifah bukan agar budaya menghafal hilang. Sebagai seorang ulama hebat beliau pasti sadar bahwa tempat yang tepat untuk ilmu adalah dada (menghafal), bukan buku. Al-ilmu fissudur, la fissutur, begitu kata para ulama. Catatan hanya sekedar ‘alat cadangan’, hawatir hafalan di kemudian hari hilang. Dalam hal ini pepatah Arab mengatakan, “Al-ilmu soidun, wal kitabatu koidun”, ilmu bagaikan hewan buruan dan catatan sebagai tali kekangnya.

Nah, dari sini kita bisa sadar bahwa pesantren yang merupakan wajah baru pendidikan salaf terkesan tidak berhasil melestarikan budaya ‘mendiangnya’. Di pesantren, menghafal bukan lagi menjadi hobi. Tentu pesantren tidak boleh tinggal diam. Budaya menghafal ala leluhur kita harus segera kembali ditumbuhkan. Jika tidak maka jangan heran jika kelak ilmu agama hilang dan didistorsi musuh Islam. Sebab, jika tak ada yang menghafal, kitab-kitab karya ulama salaf lebih mudah dipalsukan.

👉 TRENDING :   Kumpulan Twibbon Ramadhan 2022

Setidaknya, budaya ini dapat kembali tumbuh dengan cara mewajibkan santri untuk menghafal. Tentu tidak harus menghafal semua pelajaran secara bersamaan. Sebab memori mereka terbatas, tidak mungkin jika harus menghafal semua mata pelajaran dalam waktu bersamaan. Ini perlu bertahap, mulai dari fan yang paling pokok dan seterusnya, al-aham fal aham.

Selain itu, pengurus pesantren juga harus terus aktif memberi pemahaman mereka akan pentingnya menghafal. Sehingga semangat mereka tidak akan lekas luntur. Pompaan semangat semacam ini sangat dibutuhkan. Salah satu caranya adalah mengenalkan mereka pada biografi ulama salaf, sebab watak setiap orang memang condong meniru orang lain yang dianggap lebih baik. Di sini, dewan guru juga dituntut kreatif, agar para santri tidak lekas bosan dengan suasana belajar.

Tentu ide semacam ini awalnya sangat sulit diterapkan. Namun, lama-lama ini akan terasa mudah jika menghafal telah kembali menjadi budaya dan tradisi. Sebab, bagi manusia tuntutan budaya dan tradisi sudah menjadi semacam kewajiban yang mesti ditunaikan. Wallahu a’lam.

Luthfi Abdoellah Tsani*