Saatnya Mengamalkan Ilmu yang Didapat

Rasulullah berkata bahwa menuntut ilmu adalah kewajiban setiap Muslim. Islam adalah satu-satunya agama yang meletakkan menuntut ilmu sebagai kewajiban individual. Karena memang ilmu itu akan memuliakan dan menjaga pemiliknya. Sahabat Ali berkata, “Ilmu itu  lebih  baik daripada harta. Ilmu akan menjagamu sedangkan kamulah yang akan menjaga harta.”

Abu Hasan Bunan pernah mengingkari seorang Gubernur Mesir kekhalifahan Abbasiyah, Ibnu Thulun, sehingga ia dicampakkan di depan singa. Namun, singa tersebut hanya bergeming di hadapan Abu Hasan Bunan bahkan menjilati kaki beliau. Orang-orang terheran atas kejadian itu dan   ditanyakan kepada Abu Hasan, “Bagaimana keadaanmu, Abu Hasan?” Abu Hasan menjawab,   “Alhamdulillah baik-baik saja. Aku sedang memikirkan tentang hukum air liur binatang buas serta perbedaan di kalangan ahli fikih, apakah najis atau tidak?”

Dengan ilmu, seseorang mendapat kekhususan dari Allah dibandingkan selainnya. Allah berfirman, “Allah mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS Al-Mujadilah: 11). Dengan ilmu, Allah memuliakan Adam di hadapan para malaikat dengan mengajarkan Adam nama-nama segala sesuatu. Dengan ilmu pula akan menjadikan kita dimuliakan oleh orang lain, karena memang pendidikan merupakan sebagian unsur strata tertinggi di tengah-tengah masyarakat.

Baca Juga : Pesona Wanita Cantik yang Sesungguhnya

Imam Bukhari bahkan menekankan pentingnya ilmu melalui sebuah bab khusus dalam kitab sahihnya berjudul al-‘Ilmu qablal Qaul wal ‘Amâl, berilmu sebeum berkata dan beramal. Islam   harum melalui sumbangsihnya pada peradaban ilmu dunia. Dengan ilmu, Islam telah membebaskan banyak manusia dari zaman kegelapan. Sejatinya, Islam  sendiri  tidak pernah mengalami zaman kegelapan itu, bahkan melalui para ulama, ilmuwan, dan pemikir Muslim, dunia dicerahkan dengan berbagai ilmu pengetahuan nyaris di semua bidang.

👉 TRENDING :   Link Streaming West Ham vs Manchester United Pramier League

Ilmu yang paling agung adalah tauhid karena ia membawa manusia kepada fitrahnya. Apabila seseorang tidak menghamba dan mencintai Allah, ia akan mencintai dan menghamba kepada selain-Nya. Jika demikian, ini adalah penderitaan dan perbudakan yang hakiki di dunia dan kesengsaraan di akhirat.

Sebaliknya, menghambakan diri kepada Allah dan mencintai-Nya adalah kebebasan hati dan kebahagiaan yang hakiki. Kebebasan itu adalah kebebasan hati, dan penghambaan itu adalah penghambaan hati. Hati tidak akan menjadi baik, tidak akan bahagia, tidak akan merasa nikmat dan tidak akan merasa tenang kecuali menghamba kepada Rab-nya semata dan kembali kepada-Nya. Rasulullah bersabda, “Barang siapa yang Allah kehendaki padanya kebaikan, maka Allah akan memahamkannya dîn (agama).” (HR Bukhari  Muslim).

Baca Juga : Ketika Pendamping Hidup Tutup Usia

Sahabat Mu’adz bin Jabal berkata, “Ilmu itu hanya akan diberikan kepada orang-orang yang berbahagia, sedangkan orang-orang yang celaka akan terhalang darinya.” Maka itu, sebaik-baiknya ilmu yang bermanfaat bagi kebahagiaan di dunia dan akhirat adalah ilmu agama.

Setelah ilmu, kunci berikutnya adalah amal. Tidak akan berarti ilmu setinggi apapun kalau tidak diaplikasikan dalam bentuk amal.

Ilmu adalah pupuk iman. Iman inilah yang membedakan baik buruknya seseorang. Tak akan berarti ilmu tahajud, bila kita tidak pernah tahajud. Tak berarti pula ilmu berenang, kalau kita tidak pernah berenang.

Bila dalam diri kita terpadu ilmu dan amal, pasti kita akan bangkit menjadi pribadi-pribadi sukses. Sudah menjadi satu keniscayaan, bila kita selalu mengamalkan ilmu yang didapat, maka Allah SWT akan mewariskan ilmu-ilmu yang lain.

Tapi sebaliknya, bila kita tidak pernah mengamalkannya, maka laknat Allah akan datang menimpa. Ilmu tersebut akan jadi bumerang bagi kita. Ilmu adalah pupuk dan amal adalah pohonnya.

👉 TRENDING :   Akhirnya Ronaldo Cs Lolos ke Piala Dunia 2022 Menang 2-0 atas Makedonia Utara

Masalahnya, kita sering mengalami kesulitan untuk beramal, padahal kita sudah mengetahui ilmunya. Bila ini terjadi ada lima keberanian yang harus kita miliki. Pertama, berani bertekad dan bercita-cita. Kedua, berani berbuat dan memulai, serta tidak menunda-nunda pekerjaan. Ketiga, berani berkorban dan berani gagal. Keempat, berani menjalani proses. Dan terakhir, berani untuk selalu mengevaluasi diri. Nah, bagi santri pesantren yang notabene menjalani masa liburan di bulan Ramadan akan sangat pas untuk memulai mengamalkan apa yang sudah diperoleh dari pesantren dan mengevaluasi apa yang masih kurang untuk diperbaiki ketika sudah kebali lagi ke pesantren tercinta.

 

Oleh: Nurul Yakin*

Penulis asal Surabaya